Kamis, 16 Juli 2015

Filosofi Cermin


Kau akan slalu menemukan jawaban dalam cermin
Because what happens to you, probably comes from you

Tidak hanya itu
Kau juga menemukan pantulanmu
Sama, tapi terbalik
Meski kebalikan, tapi entah darimana begitu kuatnya merasa sama
Dia bukan yang kau idam-idamkan
Namun bisa jadi, dialah cerminanmu
Dan kau harus berhati-hati
Karna mungkin saja kau tidak sengaja mematahkannya

Cermin juga menentukan
Apakah kamu slalu bisa melihat kekurangan
Atau kau suka bias.. Kesempurnaan yg bias..
Atau silaunya sering menghalangi pandanganmu?

Usai menjumpai banyak manusia, kembalilah temui cermin
Kau tak akan merasa lebih besar, karena kau tak pernah lebih besar dari bayangan disana
Jangan pula bersedih hati
Bukankah bayangan cerminmu juga tak lebih besar darimu lantas mengejekmu?

Cermin paling tahu
Apa yang kau lakukan di depannya namun tidak di depan orang lain
Meratapi, maupun memuja
Tapi cermin satu-satunya yang tidak mempermalukanmu meski ia menyimpan banyak rahasiamu ketika di hadapannya

Tak ada dunia lain di dalam cermin
Jangan bermimpi
Apa yang kau lihat di dalamnya, itulah yang harus kau hadapi
Jangan berusaha menciptakan dunia lain untuk lari

Jika kau ragu harapanmu terlalu tinggi atau tidak
Tanyakan pada cermin
Ia tak pernah memberikan fatamorgana
Hanya mungkin sedikit tamparan
Tapi ia akan selalu mengatakan apa yang harus kau lakukan

Pernahkah cermin berkata salah?
Pernahkah cermin menunjukkan yg berbeda dari apa yang ada?
Tapi mengapa kau marah?
Pahit atau tidak, cermin selalu mengajarkan kejujuran
Lihatlah dengan jernih, tak ada yang salah dengan kejujuran
Masalahnya hanya pada penerimaan terhadap kejujuran itu

Ia marah saat kau memaki
Tapi cermin pernah senang
Saat ia membawa syukur pada tuturmu

Jumat, 10 Juli 2015

Perbedaan orang ingin kaya dengan orang bermental kaya

Sering nggak sih nonton sinetron terus ada peran orang kaya nan konglomerat yang digambarkan dengan perbuatan menganiaya lah, kikir lah, semena-mena lah, kasar lah? Padahal menurutku sih, itu lebay... Nggak semua orang kaya seperti itu. Nggak semua orang kaya melekat dengan stigma negatif (termasuk hedonis, eksklusifisme, kalau menurutku sih itu gangguan kepribadian yang kebetulan ada pada orang kaya). Saya juga bergaul dengan beberapa orang yang keluarganya tergolong mapan.

Mereka itu orang-orang baik, ramah, lembut. Mereka seringkali menyambut dengan wow lumayan lah (udah makan ini masih ditawarin itu, udah makan disuruh makan lagi), ya itu cara mereka menunjukkan bahwa mereka mengapresiasi kita sebagai teman/tamunya. Ketahuan kan, rich people provide the best for other people. Mereka bisa merasakan kualitas yang paling bagus dan menginginkan orang lain juga mendapatkan itu.

Nggak usah jauh-jauh deh, ayah ibumu sendiri aja nggak bakal mau ngasih kualitas fasilitas yang abal-abal. Coba kalau dia udah beliin kamu mobil tapi gampang rusak, pasti marah-marah ke yang jual kan? Kamu berobat lama, tapi nggak sembuh-sembuh pasti bertanya-tanya akan kredibilitas yang dimiliki dokter itu. Sampai akhirnya kamu pindah ke tempat lain supaya dapat perawatan yang lebih memuaskan. Sebuah perusahaan yang cukup raksasa nggak akan runtuh karena karyawannya sejahtera, banyak kolega yang percaya dan respect, konsumen merasa ditanggapi dengan baik.

Orang yang dulunya biasa-biasa aja, tapi karena dia berusaha keras akhirnya nasibnya jadi lebih baik. Ini juga “bermental” kaya, karena dia menghargai proses. Justru dari proses itu yang membuat dia belajar, tahu mana yang harus diperbaiki.

Ada cerita dari seorang tukang servis ledeng, yang sehari-harinya sudah biasa baginya untuk ramah dan memastikan pengguna jasanya cukup puas atau tidak. Sampai suatu saat ia bertemu dengan seseorang yang menyadari bahwa sikap pelayanannya itu sangat bernilai, yaitu Mr. Benz. Awalnya Mr. Benz hanya menelepon tukang ledeng ini atas rekomendasi temannya untuk memperbaiki kran miliknya. Tukang ledeng itu adalah Christopher L. Jr, yang tidak menyadari bahwa Mr. Benz adalah boss pemilik perusahaan mobil terbesar di Jerman, Mercedez Benz. Singkat cerita, ternyata beberapa bulan kemudian Mr.Benz merekrut si tukang ledeng untuk bekerja di perusahaannya. Bukan sebagai pengawas pipa air atau apapun yang berhubungan dengan itu, tapi sebagai General Manager Customer Satisfaction and Public Relation!



Still, Attitude/perlakuan ke orang lain yang menentukan “bermental” kaya atau tidak. Beda halnya dengan orang yang hanya ingin kaya. Yang perlu ditanyakan adalah orientasinya apa? Sedangkan orang-orang bermental kaya sama sekali tidak berorientasi pada keuntungannya sendiri. Jika masih ingin mengambil keuntungan dari orang lain selicik apapun caranya, dia memang sejatinya bukan orang kaya. Karena dia banyak was-was, ketika memberi ia juga was-was akan semakin berkekurangan atau merasa belum berkecukupan untuk memberi. Dialah yang menempatkan dirinya sendiri bahwa ia belum berkecukupan. Mungkin Allah juga bisa melihat mana orang yang sanggup diberi amanah (termasuk berupa uang yang banyak), jika ada yang diberi pun itu sebenarnya ujian. Ya setidaknya, jika belum bisa memberi kualitas terbaik berilah kualitas diri (pelayanan, kenyamanan, kepercayaan dan keramahan).

Sesungguhnya orang berkecukupan bisa melihat keberkahan bagaimanapun bentuknya. Namun ketika sudah banyak rezeki, ia terpanggil saat melihat orang-orang yang senasib dengan nasibnya yang dulu. Itulah orang-orang yang bermental kaya, bukan orang yang bermental licik.

Postingan ini nyambung lah dengan semaraknya tindakan kriminal di bulan Ramadhan. Kebetulan teman saya sendiri pernah jadi korbannya. Ada yang mergokin maling, ada yang semobil diincar tukang begal. Pelaku-pelaku itulah orang yang ingin kaya, tapi tidak tahu bahwa kaya memerlukan mental tertentu.

Ya ini sih dari segi kacamata gelap saya. Saya yakin yang mempengaruhi itu semua sebenarnya lebih banyak lagi. Tuntutan kebutuhan hidup lah (yang harga-harganya dipermainkan si ‘dalang’ perekonomian), arus sekulerisme lah, nggak ada yang munafik juga kalau punya uang itu enak. Cuma zebel aja, kayaknya semua-semua sekarang orientasinya bisnis, berlomba-lomba untuk materi. Padahal orang-orang yang kaya seperti Chairul Tanjung, Maspion, dll dulunya nggak kepikiran tapi malah sesukses ini. Yang kutahu sih memang mereka sudah dapat tempaan, nggak enak dikala orang lain enak. Dan bagi orang-orang besar pun, kebahagiaan mereka bukan pada materi. Kalau begitu artinya, kaya itu mengikuti seseorang, bukan seseorang yang mengikuti kaya, gitu?

Kaya ataupun enggak, sebenarnya lebih dipandang attitudenya. Kekayaan dilihat dari apa yang bisa kita bagi untuk orang lain, bukan hanya apa yang kita punya. Bagi yang sudah merasa berkecukupan, jangan lupa terus belajar untuk kualitas diri dan menolong sesama. Ya sudah saya mah apa atuh banyak ngomentarin kasus ini itu sok-sokan serius, saya mah cuma curhat dan kurang kerjaan juga. Kalau nggak benar tolong diluruskan, kalau ada pandangan lain saya juga senang nerimanya.