Sering nggak sih nonton sinetron terus ada peran orang kaya
nan konglomerat yang digambarkan dengan perbuatan menganiaya lah, kikir lah,
semena-mena lah, kasar lah? Padahal menurutku sih, itu lebay... Nggak semua
orang kaya seperti itu. Nggak semua orang kaya melekat dengan stigma negatif
(termasuk hedonis, eksklusifisme, kalau menurutku sih itu gangguan kepribadian
yang kebetulan ada pada orang kaya). Saya juga bergaul dengan beberapa orang
yang keluarganya tergolong mapan.
Mereka itu orang-orang baik, ramah, lembut. Mereka
seringkali menyambut dengan wow lumayan lah (udah makan ini masih ditawarin itu,
udah makan disuruh makan lagi), ya itu cara mereka menunjukkan bahwa mereka
mengapresiasi kita sebagai teman/tamunya. Ketahuan kan, rich people provide the best for other people. Mereka bisa
merasakan kualitas yang paling bagus dan menginginkan orang lain juga
mendapatkan itu.
Nggak usah jauh-jauh deh, ayah ibumu sendiri aja nggak bakal
mau ngasih kualitas fasilitas yang abal-abal. Coba kalau dia udah beliin kamu
mobil tapi gampang rusak, pasti marah-marah ke yang jual kan? Kamu berobat lama,
tapi nggak sembuh-sembuh pasti bertanya-tanya akan kredibilitas yang dimiliki
dokter itu. Sampai akhirnya kamu pindah ke tempat lain supaya dapat perawatan
yang lebih memuaskan. Sebuah perusahaan yang cukup raksasa nggak akan runtuh karena
karyawannya sejahtera, banyak kolega yang percaya dan respect, konsumen merasa ditanggapi dengan baik.
Orang yang dulunya biasa-biasa aja, tapi karena dia berusaha
keras akhirnya nasibnya jadi lebih baik. Ini juga “bermental” kaya, karena dia
menghargai proses. Justru dari proses itu yang membuat dia belajar, tahu mana
yang harus diperbaiki.
Ada cerita dari seorang tukang servis ledeng, yang
sehari-harinya sudah biasa baginya untuk ramah dan memastikan pengguna jasanya
cukup puas atau tidak. Sampai suatu saat ia bertemu dengan seseorang yang
menyadari bahwa sikap pelayanannya itu sangat bernilai, yaitu Mr. Benz. Awalnya
Mr. Benz hanya menelepon tukang ledeng ini atas rekomendasi temannya untuk
memperbaiki kran miliknya. Tukang ledeng itu adalah Christopher L. Jr, yang
tidak menyadari bahwa Mr. Benz adalah boss pemilik perusahaan mobil terbesar di
Jerman, Mercedez Benz. Singkat cerita, ternyata beberapa bulan kemudian Mr.Benz
merekrut si tukang ledeng untuk bekerja di perusahaannya. Bukan sebagai
pengawas pipa air atau apapun yang berhubungan dengan itu, tapi sebagai General
Manager Customer Satisfaction and Public Relation!
Still, Attitude/perlakuan
ke orang lain yang menentukan “bermental” kaya atau tidak. Beda halnya dengan
orang yang hanya ingin kaya. Yang perlu ditanyakan adalah orientasinya apa?
Sedangkan orang-orang bermental kaya sama sekali tidak berorientasi pada
keuntungannya sendiri. Jika masih ingin mengambil keuntungan dari orang lain selicik apapun caranya, dia memang sejatinya bukan orang kaya. Karena dia banyak
was-was, ketika memberi ia juga was-was
akan semakin berkekurangan atau merasa belum berkecukupan untuk memberi. Dialah yang menempatkan
dirinya sendiri bahwa ia belum berkecukupan. Mungkin Allah juga bisa melihat
mana orang yang sanggup diberi amanah (termasuk berupa uang yang banyak), jika
ada yang diberi pun itu sebenarnya ujian. Ya setidaknya, jika belum bisa
memberi kualitas terbaik berilah kualitas diri (pelayanan, kenyamanan,
kepercayaan dan keramahan).
Sesungguhnya orang berkecukupan bisa melihat keberkahan
bagaimanapun bentuknya. Namun ketika sudah banyak rezeki, ia terpanggil saat
melihat orang-orang yang senasib dengan nasibnya yang dulu. Itulah orang-orang
yang bermental kaya, bukan orang yang bermental licik.
Postingan ini nyambung lah dengan semaraknya tindakan
kriminal di bulan Ramadhan. Kebetulan teman saya sendiri pernah jadi korbannya.
Ada yang mergokin maling, ada yang semobil diincar tukang begal. Pelaku-pelaku
itulah orang yang ingin kaya, tapi tidak tahu bahwa kaya memerlukan mental
tertentu.
Ya ini sih dari segi kacamata gelap saya. Saya yakin yang
mempengaruhi itu semua sebenarnya lebih banyak lagi. Tuntutan kebutuhan hidup
lah (yang harga-harganya dipermainkan si ‘dalang’ perekonomian), arus
sekulerisme lah, nggak ada yang munafik juga kalau punya uang itu enak. Cuma
zebel aja, kayaknya semua-semua sekarang orientasinya bisnis, berlomba-lomba
untuk materi. Padahal orang-orang yang kaya seperti Chairul Tanjung, Maspion,
dll dulunya nggak kepikiran tapi malah sesukses ini. Yang kutahu sih memang
mereka sudah dapat tempaan, nggak enak dikala orang lain enak. Dan bagi
orang-orang besar pun, kebahagiaan mereka bukan pada materi. Kalau begitu artinya,
kaya itu mengikuti seseorang, bukan seseorang yang mengikuti kaya, gitu?
Kaya ataupun
enggak, sebenarnya lebih dipandang attitudenya. Kekayaan dilihat dari apa yang bisa kita bagi untuk orang lain, bukan hanya apa yang kita punya. Bagi yang sudah merasa berkecukupan, jangan lupa terus belajar untuk kualitas diri dan menolong sesama. Ya sudah saya mah apa atuh banyak ngomentarin kasus ini itu sok-sokan serius, saya mah cuma curhat dan kurang kerjaan juga. Kalau nggak benar tolong diluruskan, kalau ada pandangan lain saya juga senang
nerimanya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar