Kau akan slalu menemukan jawaban dalam cermin Because what happens to you, probably comes from you Tidak hanya itu Kau juga menemukan pantulanmu Sama, tapi terbalik Meski kebalikan, tapi entah darimana begitu kuatnya merasa sama Dia bukan yang kau idam-idamkan Namun bisa jadi, dialah cerminanmu Dan kau harus berhati-hati Karna mungkin saja kau tidak sengaja mematahkannya Cermin juga menentukan Apakah kamu slalu bisa melihat kekurangan Atau kau suka bias.. Kesempurnaan yg bias.. Atau silaunya sering menghalangi pandanganmu? Usai menjumpai banyak manusia, kembalilah temui cermin
Kau tak akan merasa lebih besar, karena kau tak pernah lebih besar dari bayangan disana Jangan pula bersedih hati Bukankah bayangan cerminmu juga tak lebih besar darimu lantas mengejekmu? Cermin paling tahu Apa yang kau lakukan di depannya namun tidak di depan orang lain Meratapi, maupun memuja Tapi cermin satu-satunya yang tidak mempermalukanmu meski ia menyimpan banyak rahasiamu ketika di hadapannya Tak ada dunia lain di dalam cermin Jangan bermimpi Apa yang kau lihat di dalamnya, itulah yang harus kau hadapi Jangan berusaha menciptakan dunia lain untuk lari Jika kau ragu harapanmu terlalu tinggi atau tidak Tanyakan pada cermin Ia tak pernah memberikan fatamorgana Hanya mungkin sedikit tamparan Tapi ia akan selalu mengatakan apa yang harus kau lakukan Pernahkah cermin berkata salah? Pernahkah cermin menunjukkan yg berbeda dari apa yang ada? Tapi mengapa kau marah? Pahit atau tidak, cermin selalu mengajarkan kejujuran Lihatlah dengan jernih, tak ada yang salah dengan kejujuran Masalahnya hanya pada penerimaan terhadap kejujuran itu Ia marah saat kau memaki Tapi cermin pernah senang Saat ia membawa syukur pada tuturmu
Sering nggak sih nonton sinetron terus ada peran orang kaya
nan konglomerat yang digambarkan dengan perbuatan menganiaya lah, kikir lah,
semena-mena lah, kasar lah? Padahal menurutku sih, itu lebay... Nggak semua
orang kaya seperti itu. Nggak semua orang kaya melekat dengan stigma negatif
(termasuk hedonis, eksklusifisme, kalau menurutku sih itu gangguan kepribadian
yang kebetulan ada pada orang kaya). Saya juga bergaul dengan beberapa orang
yang keluarganya tergolong mapan.
Mereka itu orang-orang baik, ramah, lembut. Mereka
seringkali menyambut dengan wow lumayan lah (udah makan ini masih ditawarin itu,
udah makan disuruh makan lagi), ya itu cara mereka menunjukkan bahwa mereka
mengapresiasi kita sebagai teman/tamunya. Ketahuan kan, rich people provide the best for other people. Mereka bisa
merasakan kualitas yang paling bagus dan menginginkan orang lain juga
mendapatkan itu.
Nggak usah jauh-jauh deh, ayah ibumu sendiri aja nggak bakal
mau ngasih kualitas fasilitas yang abal-abal. Coba kalau dia udah beliin kamu
mobil tapi gampang rusak, pasti marah-marah ke yang jual kan? Kamu berobat lama,
tapi nggak sembuh-sembuh pasti bertanya-tanya akan kredibilitas yang dimiliki
dokter itu. Sampai akhirnya kamu pindah ke tempat lain supaya dapat perawatan
yang lebih memuaskan. Sebuah perusahaan yang cukup raksasa nggak akan runtuh karena
karyawannya sejahtera, banyak kolega yang percaya dan respect, konsumen merasa ditanggapi dengan baik.
Orang yang dulunya biasa-biasa aja, tapi karena dia berusaha
keras akhirnya nasibnya jadi lebih baik. Ini juga “bermental” kaya, karena dia
menghargai proses. Justru dari proses itu yang membuat dia belajar, tahu mana
yang harus diperbaiki.
Ada cerita dari seorang tukang servis ledeng, yang
sehari-harinya sudah biasa baginya untuk ramah dan memastikan pengguna jasanya
cukup puas atau tidak. Sampai suatu saat ia bertemu dengan seseorang yang
menyadari bahwa sikap pelayanannya itu sangat bernilai, yaitu Mr. Benz. Awalnya
Mr. Benz hanya menelepon tukang ledeng ini atas rekomendasi temannya untuk
memperbaiki kran miliknya. Tukang ledeng itu adalah Christopher L. Jr, yang
tidak menyadari bahwa Mr. Benz adalah boss pemilik perusahaan mobil terbesar di
Jerman, Mercedez Benz. Singkat cerita, ternyata beberapa bulan kemudian Mr.Benz
merekrut si tukang ledeng untuk bekerja di perusahaannya. Bukan sebagai
pengawas pipa air atau apapun yang berhubungan dengan itu, tapi sebagai General
Manager Customer Satisfaction and Public Relation!
Still, Attitude/perlakuan
ke orang lain yang menentukan “bermental” kaya atau tidak. Beda halnya dengan
orang yang hanya ingin kaya. Yang perlu ditanyakan adalah orientasinya apa?
Sedangkan orang-orang bermental kaya sama sekali tidak berorientasi pada
keuntungannya sendiri. Jika masih ingin mengambil keuntungan dari orang lain selicik apapun caranya, dia memang sejatinya bukan orang kaya. Karena dia banyak
was-was, ketika memberi ia juga was-was
akan semakin berkekurangan atau merasa belum berkecukupan untuk memberi. Dialah yang menempatkan
dirinya sendiri bahwa ia belum berkecukupan. Mungkin Allah juga bisa melihat
mana orang yang sanggup diberi amanah (termasuk berupa uang yang banyak), jika
ada yang diberi pun itu sebenarnya ujian. Ya setidaknya, jika belum bisa
memberi kualitas terbaik berilah kualitas diri (pelayanan, kenyamanan,
kepercayaan dan keramahan).
Sesungguhnya orang berkecukupan bisa melihat keberkahan
bagaimanapun bentuknya. Namun ketika sudah banyak rezeki, ia terpanggil saat
melihat orang-orang yang senasib dengan nasibnya yang dulu. Itulah orang-orang
yang bermental kaya, bukan orang yang bermental licik.
Postingan ini nyambung lah dengan semaraknya tindakan
kriminal di bulan Ramadhan. Kebetulan teman saya sendiri pernah jadi korbannya.
Ada yang mergokin maling, ada yang semobil diincar tukang begal. Pelaku-pelaku
itulah orang yang ingin kaya, tapi tidak tahu bahwa kaya memerlukan mental
tertentu.
Ya ini sih dari segi kacamata gelap saya. Saya yakin yang
mempengaruhi itu semua sebenarnya lebih banyak lagi. Tuntutan kebutuhan hidup
lah (yang harga-harganya dipermainkan si ‘dalang’ perekonomian), arus
sekulerisme lah, nggak ada yang munafik juga kalau punya uang itu enak. Cuma
zebel aja, kayaknya semua-semua sekarang orientasinya bisnis, berlomba-lomba
untuk materi. Padahal orang-orang yang kaya seperti Chairul Tanjung, Maspion,
dll dulunya nggak kepikiran tapi malah sesukses ini. Yang kutahu sih memang
mereka sudah dapat tempaan, nggak enak dikala orang lain enak. Dan bagi
orang-orang besar pun, kebahagiaan mereka bukan pada materi. Kalau begitu artinya,
kaya itu mengikuti seseorang, bukan seseorang yang mengikuti kaya, gitu?
Kaya ataupun
enggak, sebenarnya lebih dipandang attitudenya. Kekayaan dilihat dari apa yang bisa kita bagi untuk orang lain, bukan hanya apa yang kita punya. Bagi yang sudah merasa berkecukupan, jangan lupa terus belajar untuk kualitas diri dan menolong sesama. Ya sudah saya mah apa atuh banyak ngomentarin kasus ini itu sok-sokan serius, saya mah cuma curhat dan kurang kerjaan juga. Kalau nggak benar tolong diluruskan, kalau ada pandangan lain saya juga senang
nerimanya.
Heyyyy kampus-kampus diluar sana yang masih berbangga dengan sistem pengaderan perploncoan atau pressing, yang masih menganggap lulusan anak SMA itu manja dan pemikiran kalian jauh lebih benar, mungkin lain waktu kalian harus terpikir untuk studi banding tentang pengaderan dan pendidikan karakter. Disini saya cuma mau cerita sekaligus nostalgia pengalaman tahun lalu saya sebagai mahasisawa baru di Psikologi Universitas Airlangga. Waktu saya cerita pengalaman saya tentang pengaderan disini ke teman-teman luar, masih saja tidak ada yang percaya. Bukti nyata, bahwa persepsi tentang pengaderan masih menjadi sesuatu yang tidak menyenangkan dengan kedok solidaritas saja. Dulu waktu detik-detik jelang pengaderan, saya juga mempunyai persepsi begitu. Jujur aja, saya udah nunggu-nunggu, kira-kira bakal diapain, atau kapan dibentaknya. Pas dijalani, lah kok................ jauh dari yang saya bayangkan sebelumnya. Bahkan sampai hari terakhir pengaderan pun saya masih menunggu-nunggu kapan dibentaknya... dan nunggu biasanya di penutupan ada surprise gitu kan, endingnya terungkap kalau kemarin-kemarin itu drama, trus maaf-maafan, ya gitu mulu alurnya ketebak. Ternyata disini tuh aduh... kakak-kakaknya sama sekali jauh dari kesan galak (kecuali sie keamanan lumayan lah).
Pengaderan, mungkin bisa dibilang masa-masa ABG keluar dari zona nyaman. Kurang tidur, itu wajar sih. Tapi disini nggak ada yang namanya atribut aneh-aneh, yang sok-sokan dirasionalisasikan ini maknanya gini gini gini. Kita cuma pakai id card dari kertas manila ungu dilaminating, tulisannya pake spidol silver, bentuknya bebas yang penting setiap kelompok beda, sama pake pengait doang udah. Intinya kan cuma merepresentasikan fakultas, menunjukkan identitas sama kelompok. Kalau di FIB sama farmasi lebih simpel lagi, cuma kayak kartu nama doang gitu. Aduh plis, kalau masih pake atribut aneh-aneh itu kesannya anak lulusan SMA ditempatkan rendah banget, lagian senior-junior sama-sama punya hak kuliah. Memangnya lulusan SMA terlihat remeh, manja, labil, ga bisa punya pemikiran yang jauh, mentang-mentang? Faktanya, pas kakak tingkat ditanyain “Gimana sih mahasiswa baru 2014 disini?” Semuanya punya jawaban yang sama “KRITIS”. Jadi, jangan kira “kritis” itu cuma bisa didapatkan dari pressing! Apalagi pakai kata-kata kasar, merendahkan mahasiswa baru, atau sampai ke agresi dan pelecehan fisik. Rangkaian acara pengaderan kami terdiri dari Student Day dan PsychoCamp. Student Day ini tugas besarnya adalah... interaksi! Interaksi, ngobrol-ngobrol, tanya-tanya sama kakak angkatan, sampai dapet inspirasi pokoknya. Inspirasi itu dicatat dan dikumpulkan (ditarget sih). Total yang terkumpul adalah 130 “quotes” dari kakak angkatan dalam 3 minggu. Bisa sampek ke dosen dan karyawan juga sih. Jadi inget, dulu suasana fakultas itu hidup banget sampek malem. Sampek malem? iya, tak jarang dari kami masih nongkrongin kakak angkatan sampek malem. Itu baru salah satu sih, masih ada review koran, essay, observasi, bikin mading, presentasi. Yang jelas relevan dengan gambaran kuliah kita kedepannya. Kegiatan yang heboh dan menghibur yang paling saya ingat waktu Student Day adalah pas hari terakhir, games joget hahaha. Sama games zombie candle, kakak angkatan jadi zombienya, angkatan 2014 dikasih misi untuk menjaga lilin supaya nggak dipadamkan zombie. Ada yang bertugas jadi garis pertahanan, ada yang melingkar ngelindungin lilin (sampe basah coy disiram air dilemparin es batu), ada yang nyusun puzzle bendera sama merangkai tiang bendera. Jadi endingnya itu ada pengibaran bendera. Udah baris rapi, hormat, benderanya otw, pas udah mau sampe puncak sayangnya tiangnya roboh. Tapi kakak-kakak angkatan tetap mengapresiasi kami yang udah capek panas-panasan.
Sebagai mahasiswa baru, nggak afdhol namanya kalau nggak pernah salah. Bahkan kesalahan setitik pun bisa tertangkap mata. Tapi, kami lebih mengenal “konsekuensi” daripada hukuman. Beda dong, karena konsekuensi datang dari kami sendiri. Mahasiswa baru sering dimintai komdis konsekuensi untuk kesalahan kami sendiri. Jadi, berbuat salah itu bukan takut, tapi “malu”! Saya teringat salah satu penugasan sebagai konsekuensi, yaitu menolong orang lain lalu dituliskan dalam bentuk essay. Sampai ketika pengumpulan tugas itu, kami ditanya “Apa yang bisa kalian dapat dari tugas itu?”. Ada salah satu maba yang menjawab, intinya “Waktu itu ada ibu-ibu kesusahan ngambil motor, terus saya bantu. Ibu itu bilang terimakasih. Saya baru ngeh, tindakan saya itu ternyata sudah menolong orang lain. Ternyata kita sering nggak sadar kalau hal kecil bisa menolong orang lain. Jadi, menolong itu tidak harus sesuatu yang sudah ditujukan sebelumnya.” Motto pengaderan kami adalah “memanusiakan manusia”. Nggak percaya? PsychoCamp, yang diadakan di salah satu bumi perkemahan di Pacet, nggak ada yang namanya tiba-tiba tengah malam dibangunin dengan diteriakin suara semelengking gajah. Tahu nggak cara banguninnya gimana? Mereka tahu jam-jam manusiawi untuk bangun setelah kelelahan di malam hari (mungkin mereka lebih lelah). Mereka cuma bunyiin sound yang bisa kedengeran sama semua, dengan lagu sherina............. (i really miss this part). Kegiatan kami setelah bangun tidur adalah mengaji, refleksi, sholat, senam. Itulah rutinitas kami di pagi hari selama 4 hari. Dan masih banyak orang-orang yang susah percaya, kalau kegiatan kami selama psychocamp ini cuma jelajah sama permainan, nggak ada bentak-bentakan. Yang ada mahasiswa baru di”apresiasi”. Asik seru lah permainannya. Games favorit yang paling saya inget itu pas setiap kelompok dulu-duluan melewati rintangan jaring laba-laba tapi tangan harus gandengan ga boleh lepas, kelompokku menang dong haha (ga sia-sia ngesot-ngesot). Sama pas setiap anak dalam kelompok disuruh nulis cita-citanya masing-masing di kertas kecil, trus kertas itu disebar acak. Sekelompok melingkar, kakinya diiket satu sama lain. Sensasinya pas jalan tuh.... seusai permainan pas ikatannya dilepas pun masih terasa haha jadi misinya harus berhasil mengumpulkan cita-cita punya anak sekelompok, ini jadi lebih mengenal satu sama lain banget =)) Makanannya selama psychocamp aja enak-enak lho haha spesial langsung dari tangan-tangan sie konsumsi (sehabis makan kami selalu mengapresiasi “terimakasih kakak konsumsi”, kadang saking kreatifnya sampe dibikin jingle). Salah satu dosen di fakultas saya pun menyebutkan bahwa cara pengaderan disini sudah menjadi panutan untuk institut tetangga sebelah. Kembali lagi ke konteksnya, bahwa kita ini universitas, civitas akademika. Bukan semi militer, taruna, pramuka, paskibra, dan semacamnya. Output dari universitas adalah intelektual, inovator, leader, beretika, bermoral, amanah. Nggak harus jadi politisi, itu sih pilihan masing-masing (kecuali fisip). Cobalah tengok pendidikan karakter yang biasanya diselenggarakan beasiswa-beasiswa, itu masuk akal. Dan kebanyakan pun kegiatannya games, problem solving, outbond. Yaudah sih, mungkin tiap fakultas punya nilai yang diterapkan dengan adatnya sendiri yang jadi ciri khas. Saya sempat melakukan interaksi terhadap beberapa dosen. Salah seorang dosen muda, Pak Adit, berkata “Kenapa sih kita harus melakukan pengaderan seperti ini? Kembali lagi ke budaya Indonesia, yaitu saling mengenal. Kalau kamu bandingkan dengan luar negeri, mereka tidak begitu.” Dosen lainnya, Prof. Fendy, menyampaikan “Pendidikan karakter itu olah raga (sportif, unggul), olah pikir (cerdas, kritis, kreatif), olah rasa/karsa (ramah, toleransi, peduli), dan olah hati (jujur, amanah, tanggung jawab). Caranya ya lewat PsychoCamp yang kamu jalani ini.” Yang pasti psychocamp ini tiap tahun selalu diadakan dengan tema yang berbeda, dan permainannya juga beda (nggak kalah seru dari tahun ke tahun)
You may say this is tribute to child abuse, violence, and abortions
Ini bukan cuma sekedar ikut arus pemberitaan yang ramai di media.
Percaya atau tidak, sebenarnya aku sudah lama "empet" dengan hal ini.
Siapa yang tidak mau sukses? Tapi kebanyakan orang berambisi untuk sukses seperti menjadi manager, menjadi pengusaha, menduduki kursi parlemen, dan sejenisnya. Kita sebut saja itu sukses material dan prestise. Apapun dilakukan, menguras seluruh tenaga, pikiran, tekad dan dedikasi hanya untuk memperoleh itu.Tapi sudahkah mencurahkan itu semua untuk mencita-citakan menjadi orang tua yang sukses? Minimal cukup tahu, bagaimana dan apa saja yang diperlukan, untuk menjadi orang tua yang akhirnya bisa dikatakan sukses.
Lembaga hukum, peraturan-peraturan, prosedur, dan segala sumber daya dikerahkan untuk melindungi atau menjamin nyawa. Tapi mengapa bukan setiap manusia itu sendiri, yang dekat, yang saling melindungi dan menjaga? Malah menciptakan atmosfer bahwa keberadaan manusia saling mengancam, atau merebut sesuatu.
Apalah hakikat manusia, jika hidup tapi tak menghidupi. Ingin hidup layak, tapi tak bisa memberikan kelayakan. Sebagian orang hanya tahu bagaimana menjalani hidup, tapi tidak dengan maknanya. Apa yang terjadi? Mereka seperti berjalan tanpa melihat. Bertumpu pada kaki, tidak pada pikiran dan hati. Mereka adalah budak, dari motif dan dorongan instink, dan sekedar hidup untuk memenuhi itu.
Adakah yang bercita-cita mengenalkan anak pada empati?
Adakah yang bercita-cita menjadi pendengar untuk anaknya?
Adakah yang bercita-cita menjadi sahabat sekaligus coach untuk anaknya?
Agar tak ada anak yang dendam dari pengabaian
Apakah kau berpikir, sebuah kelahiran tidak menunjukmu, untuk datang darimu, hanya terjadi begitu saja sebagai sebuah kebetulan?
Realita memang keras. Kau sebut kemiskinan yang membuat berperilaku seperti itu? Pemulung saja bisa menyekolahkan anaknya, lalu dimana letak perbedaannya? Nilai kemanusiaannya, tekad dan dedikasinya, sebagai orang tua.
Ceritanya habis surfing di youtube, nggak sengaja nemu video ini
Iseng-iseng nonton, ternyata aku jadi nangis.............
Aku kira semacam
film pendek, ternyata video klip lagu thailand
Dari judulnya
"Is Love Possible for a Guy Without Memory?" aku udah nebak duluan
bahwa aktor pemerannya sedang memiliki penyakit yang membuat memori di otaknya
bermasalah
Ternyata dia
pengidap Alzheimer...
Ceritanya, di suatu
malam, entah darimana asalnya ada cewek bergaun pengantin asal nyelonong masuk
ke tempat kediaman yang sederhana dan apa adanya dari si laki ini. Diketahui
dari video ini, si laki bekerja sebagai tukang reparasi jam. Cewek itu
bersembunyi, ketakutan dan menangis. Nampaknya si lelaki paham bahwa si cewek
sedang berusaha kabur dari beberapa orang.
Si lelaki berkata
"kau tidak bisa tinggal di tempat ini."
Namun ternyata
cewek ini sudah tidak punya arah dan tujuan, sehingga ia memaksa untuk tinggal
di tempat itu hingga memberikan jam kalung agar ia diperbolehkan tinggal.
Awalnya si lelaki bersikeras menolak. Akhirnya lelaki itu merasa kasihan dan
membiarkan wanita itu tinggal untuk beberapa hari saja dan membantu
pekerjaannya.
Hari-hari
selanjutnya, tampak bagaimana lelaki itu menjalani hidupnya sebagai penderita
Alzheimer. Orang dengan Alzheimer sering
mengalami disorientasi tempat, waktu, serta orang. Mereka bisa merasa asing di
lingkungan yang sebenarnya familiar bagi mereka, mereka tidak ingat siapa orang
yang pernah mereka kenal (termasuk anggota keluarga sendiri atau teman),
ya pokoknya parah lah kondisi ingatannya. Bisa dibilang menunjukkan gejala
demensia (serangkaian gejala seperti kehilangan memori, kesulitan
berpikir dan pemecahan masalah bahkan bahasa).
Kebanyakan orang mengira ini yang terjadi pada nenek kakek usia 75 keatas
(pikun), padahal Alzheimer bisa terjadi pada usia 40-50 tahun. Karena
itulah lelaki dalam video ini membuat catatan tentang segala peristiwa mengenai
wanita itu di dinding kamarnya. Nggak kebayang kan kalau pas bangun tidur
tau-tau bingung ada cewek ngepel-ngepel di tempat tinggalnya?
Setelah
hari demi hari bersama, pada suatu saat lelaki itu mengatakan "Aku tidak
tahu mengapa aku bisa mengingatnya hari ini.. Apakah kita semakin dekat... atau
aku sedang jatuh cinta?"
Hari-hari
pun dilewati dan membuat memori baru setiap harinya... kegiatan... kebaikan...
dengan komunikasi yang semakin terjalin...
Sampai
pada suatu momen, mereka tanpa sengaja melihat beberapa orang yang pernah
mencari-cari wanita itu. Mereka lari, bersembunyi... lelaki itu sangat
melindungi wanita yang telah datang di kehidupannya itu... mungkin menjadi
takut kehilangan
Keesokan
harinya, ketika si wanita datang dengan manis membawakan makanan dan lelaki itu
sedang membaca berita di koran, nampak foto pasangan bergaun pengantin. Foto
itu adalah wanita yang selama ini tinggal bersamanya. Dan pasangan pengantinnya adalah orang yang mencari-cari persembunyian wanita itu selama ini. Lelaki ini sedih, kecewa,
karena mengetahui wanita itu sudah memiliki kekasih.
Selanjutnya
silahkan tonton videonya kalau mau tau endingnya :D Kira-kira apa yang akan
dilakukan lelaki itu?
Yang
pasti endingnya sangat memancing pertanyaan... apakah sebenarnya perasaan cinta
tersimpan dalam memori otak? ataukah perasaan itu bersifat abstrak yang katanya
terletak di "hati"?
Padahal "hati" yang
diketahui eksistensinya adalah yang sampai saat ini berfungsi sebagai sistem
ekskresi.
Yang
benar, perasaan atau emosi juga terletak di otak. Tepatnya terdapat di bagian
bernama amygdala sebagai pusat ingatan yang diliputi
emosi atau perasaan seperti senang, sedih, marah, termasuk cinta. Manusia menerima stimulus kemudian diproses di dalam otak
(korteks) sehingga menunjukkan respon sedih, murung ataupun yang lainya. Ada
yang bilang juga sih, katanya orang yang lebih cerdas mengelola emosi itu
dominan otak kanan.
Ternyata
otak tidak hanya berfungsi kognitif saja. Walaupun ketika kita merasa sedih,
resah, gundah gulana, atau sakit hati, tidak pernah kepala berdenyut atau
kepalanya yang sakit ya? Hehe... Iya, efeknya menyebabkan perubahan fisiologis
pada seluruh tubuh. Akibatnya dada jadi sesak, keluar air mata, hidung buntu...
Yang pasti seluruh badan jadi nggak enak. Sama halnya kalau kita senang atau
bahagia, efeknya juga terasa ke seluruh tubuh. Meningkatkan denyut jantung,
bersemangat, karena melepaskan senyawa kimiawi yang meredakan stress.
Nah,
lalu bagaimana dengan kasus penderita Alzheimer ini? padahal dia pikun parah,
dan mengingat orang aja susah. Selama sakit berlangsung, zat kimia dan struktur otak berubah sehingga
menyebabkan kematian sel-sel otak dan menggambarkan serangkaian gejala yang
mencakup kehilangan memori, perubahan suasana hati, masalah dengan komunikasi
dan penalaran. Gimana hayo gimana? *brainstrom* Kalau menurut analisa saya, karena otak manusia itu bersifat plastis jadi bisa dibentuk walaupun membutuhkan waktu yang cukup lama dan kekonsistenan. Jika penderita Alzheimer ini rutin melakukan latihan-latihan kognitif ringan, bersosialisasi, olahraga, menjaga pola makan, atau mungkin melakukan terapi tertentu, mungkin masih bisa membantu. Kembali ke kasus video klip, adanya kehadiran si cewek itu udah melatih komunikasi si penderita. Serta penyimpanan di amygdala itu besar kemungkinannya untuk tersimpan dalam waktu yang lama, itulah mengapa ingatan yang diliputi perasaan tidak mungkin semudah itu dilupakan. Melupakan sakit hati contohnya. Tidak bisa dilupakan, bisanya diikhlaskan.
Salah satu cara mengatasi penderita Alzheimer adalah perlunya mendapat dukungan dan cinta dari
orang-orang di sekitarnya. Nyatanya cinta punya kekuatan besar yang sampai
kapanpun tidak pernah bisa dijangkau dengan penalaran atau logika.
Anw, saya suka lirik dari video klip diatas. Cocok ketika
kita harus melupakan memori tentang perasaan yang sebelumnya pernah ada.
Somebody just passes by for you to love, not to belong
I remind myself that this is all I can do
Somebody just passes by for you to memorize
A beautiful memory, even thought it's painful, is good
enough for me